Bikin Ratna-Atiqah Heran, Ini Pertimbangan Hakim soal Benih-benih Keonaran

Bikin Ratna-Atiqah Heran, Ini Pertimbangan Hakim soal Benih-benih Keonaran

Oleh : Yulida Medistiara - detikNews
11 Juli 2019 22:16
news.detik.com

Jakarta - Terdakwa kasus hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet dan putrinya Atiqah Hasiholan heran dengan pertimbangan hakim soal benih-benih keonaran. Apa sebenarnya pertimbangan hakim.

Ratna Sarumpaet dihukum 2 tahun penjara karena terbukti menyebarkan hoax penganiayaan. Ratna terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Majelis hakim menimbang delik materil pada Pasal 14 ayat 1 UU 1946 yakni menerbitkan keonaran. Majelis menimbang bahwa menerbitkan berarti menimbulkan perselisihan, membangkitkan amarah, kerugian dan sebagainya.





"Menurut majelis bahwa keonaran itu belum benar-benar terjadi. Tapi bibit-bibit untuk terjadinya keonaran itu telah tampak dan muncul ke permukaan," ujar hakim anggota Krisnugroho membacakan analisa yuridis putusan Ratna Sarumpaet di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Kamis (11/7/2019).

Bibit atau benih keonaran dalam pertimbangan hakim didasari fakta-fakta persidangan seperti kabar yang menjadi viral di dunia maya.

"Menjadi pro-kontra di medsos dan menjadi berita utama di media mainstream," kata hakim.

Selain itu, muncul juga demonstrasi di Polda Metro Jaya termasuk pertemuan di sebuah restoran oleh sekelompok orang untuk menyikapi kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet.

"Menimbang bahwa jika kondisi tersebut tidak cepat teratasi oleh kepolisian maka kerusuhan, keributan dan keonaran bisa terjadi dan hal tersebut tentunya akan sangat merugikan kita semua dan fungsi hukum untuk menjaga ketertiban di masyarakat menjadi tidak mmpunyai arti," papar hakim.





Ketegangan ini disebut hakim baru mereda setelah Ratna Sarumpaet menggelar jumpa pers mengakui kebohongannya dan meminta maaf pada 3 Oktober. Ratna mengakui perbuatannya setelah polisi menunjukkan bukti lebam dan bengkak di wajahnya setelah operasi plastik di RS Bina Estetika Menteng, Jakpus.

"Menimbang bahwa terdakwa seharusnya menyadari kalau berita bohong dan kondisi muka lebam di mukanya akibat pemukulan yang disebarkan itu akan menyebabkan reaksi dari orang yang menerima dan membaca dan mengetahui keadaan tersebut," ujar hakim.

Ratna Sarumpaet menurut majelis hakim seharusnya menyadari dalam dunia teknologi yang canggih, hoax penganiayaan bisa dengan mudah menyebar.

"Dan didukung situasi politik yang sedang memanas karena sedang waktunya Pilpres dengan keadaan masyarakat yang terpolarisasi akan sangat mudah dan akhirnya akan muncul keributan, kerusuhan atau keonaran di masyarakat," imbuh hakim.






"Menimbang bahwa majelis untuk dapat diterapkan pasal ini, keonaran tidak harus benar-benar terjadi seperti yang dibayangkan penasihat hukum. Akan tetapi sudah cukup apabila benih-benih keonaran telah tampak terjadi dan muncul di masyarakat. Oleh karena itu majelis tidak sependapat dengan penasihat terdakwa yang berpendapat bahwa keonaran harus benar-benar terjadi dan hanya dapat dibuktikan dengan mengerahkan kekuatan aparat keamanan atau polisi," papar hakim.

Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, majelis hakim berpendapat unsur dengan sengaja yang menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat telah terpenuhi.





Usai sidang, Ratna Sarumpaet menanggapi pertimbangan majelis hakim. Menurutnya unsur keonaran seharusnya tidak terbukti sebagaimana dalam dakwaan jaksa. Tapi Ratna mempertanyakan pertimbangan hakim yang menyebut ada benih-benih keonaran.

"Benih-benih itu kan bahasa yang dikamuflase sedemikian rupa. Kan hukum itu ada kepastiannya, nggak bisa benih-benih kok tiba-tiba memunculkan itu. Nanti harus dibongkar lagi kamus bahasa Indonesia maksudnya," kata Ratna.

Keheranan yang sama diungkapkan putri Ratna, Atiqah Hasiholan. Atiqah mengaku bersyukur vonis jauh lebih rendah daripada tuntutan jaksa yakni 6 tahun penjara.

"Tapi yang saya yakini adalah... apa makna keonaran itu, di mana sebenarnya tidak terpenuhi di sini. Tapi tiba-tiba muncul baru lagi, terjadinya benih-benih keonaran. Saya jadi, lo apa lagi ini benih-benih keonaran?" tutur Atiqah.

"Walaupun di satu sisi saya bersyukur, dari 6 tahun tuntutan, Ibu saya divonis 2 tahun. Tapi ya itu dia ya, kata 'keonaran', 'benih-benih keonaran'," kata Atiqah heran.
(fdn/fdn)

Mau Jago IT?

Create Account



Log In Your Account