Pensiun Dini Akibat Cedera Lutut, Mantan Pemain Timnas U-16 dan PSIM Ini Jadi Nahkoda Persig U17 di Piala Soeratin

Pensiun Dini Akibat Cedera Lutut, Mantan Pemain Timnas U-16 dan PSIM Ini Jadi Nahkoda Persig U17 di Piala Soeratin

Oleh : Rena Anggabenta
15 Oktober 2019 17:02
pidjar.com

Wonosari,(pidjar.com)–Kecintaan Anjar Beni Saputra terhadap dunia sepakbola memang tak diragukan lagi. Jatuh bangun dalam mencapai impian untuk menjadi pesepakbola handal tak sedikitpun melunturkan kecintaannya terhadap olahraga paling populer semuka bumi ini. Nyaris menjadi pemain profesional dengan segudang prestasi, karir Anjar yang saat ini baru berusia 25 tahun kandas akibat cedera yang dideritanya. Alhasil, ia pun harus pensiun dini di tengah usianya yang terhitung emas sebagai pemain sepakbola.

Tak patah arang, bukannya banting stir mencoba peruntungan lain pasca gantung sepatu tersebut, Anjar tetap bertekad menggeluti dunia si kulit bundar dengan mencoba profesi sebagai pelatih. Di awal karirnya sekarang ini, bisa dibilang ia menjadi salah satu masa depan sepakbola Gunungkidul. Pasalnya, Anjar saat ini menjadi pelatih SMA N 1 Tanjungsari dan Persig Gunungkidul U-17. Sebagaimana diketahui, SMA N 1 Tanjungsari atau yang biasa disebut SBO tersebut merupakan salah satu sekolah dengan segudang pemain sepakbola berbakat. Sementara untuk Persig U-17 adalah kawah candradimuka untuk para pemain muda Gunungkidul.

Kepada pidjar.com, pemuda yang bertempat tinggal di Padukuhan Siyono Kidul, Desa Logandeng, Kecamatan Playen ini mengungkapkan bahwa sejak kecil ia memang sudah jatuh cinta kepada sepakbola. Sejak merumput di usia Sekolah Dasar, Anjar sudah bermimpi menjadi pemain sepakbola.

Di awal karirnya, pria kelahiran Gunungkidul ini mengikuti ajang Pengda DIY U-13. Sukses di DIY, ia pun pergi ke ibu kota untuk mengikuti festival sepakbola di Jakarta. Setelah itu mengikuti seleksi Tim Nasional U-13.

“Alhamdulilah saya menjadi salah satu yang lolos seleksi. Kemudian saya mengikuti training camp di Palembang, Sumatera Selatan,” tutur Anjar kepada pidjar.com, Selasa (15/10/2019).

Usai menimba ilmu di timnas U-13, memasuki usia yang ke-14, ia mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Sekayu Youth Soccer Academy (SYSA) Banyuasin Palembang, sebuah akademi sepakbola berlevel nasional tentunya. Tak ingin menyiakan kesempatan, ia kemudian pergi ke Palembang dan memilih terjun sepenuhnya menekuni sepakbola.

Berita Lainnya  Kacaunya Jalanan di DIY, 1000 Pelanggar Lalu Lintas Ditilang Setiap Harinya

“Memang bukan hal yang mudah saat itu jauh dari orang tua di usia belasan, apalagi di tahun pertama sangat sulit, saya sempat hampir dicoret karena cedera lutut,” kenangnya.

Meski fokus pada sepakbola, namun Anjar juga harus membagi waktu dengan sekolah. Usai menjalani latihan pagi, pada pukul 09.00 WIB ia melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah formal. Rutinitas ini terus ia lakukan hingga lulus SMA.

“Selama sekolah itu banyak event juga yang saya ikuti, tapi kalau yang individu saya pernah ikut Timnas U-15 sama U-16 selama di Palembang,” cerita dia.

Salah satu pengalaman yang paling membuatnya kecewa adalah saat menjalani seleksi Timnas U-17. Anjar sebenarnya sempat menyisihkan ratusan pemain lainnya. Namun kemudian pada tahap seleksi akhir, ia tercoret lantaran dinilai kalah bersaing dengan kandidat lainnya.

“Setelah lulus dari diklat saya masuk Sriwijaya U-21. Saya mendapatkan kontrak semusim dan kemudian selesai kontrak saya memutuskan untuk pulang ke Jogja,” beber Anjar.

Di Jogja, Anjar terus berusaha membangun karirnya. Ia lalu bergabung dengan Tunas Jogja. Karirnya terus menanjak bersama klubnya dan berhasil membawa Tunas Jogja promosi ke Divisi 1.

“Saya sempat mengikuti Porda DIY, kebetulan waktu itu bisa bawa Kota Yogyakarta mendapatkan medali emas. Yang membanggakan, saat itu saya kaptennya,” imbuhnya.

Karir gemilang bersama Tunas Jogja dan Tim Porda Kota Yogyakarta ini membuat kemudian ia dilirik oleh tim besar di DIY yakni, PSIM Yogyakarta. Pada tahun 2014, Anjar resmi membela panji-panji Laskar Mataram. Sebuah impian yang terwujud baginya.

Berita Lainnya  Hindari Efek Negatif Kampanye Media Sosial, Pihak Kepolisian Perketat Pengamanan

Sayang di tengah karirnya yang mulai menanjak ini, cedera lutut yang pernah dideritanya kembali kambuh. Bahkan kali ini, cedera lutut ini harus membuatnya pensiun dini sebagai pesepakbola di usia yang masih sangat belia.

“Karena cedera, saya kemudian mengambil lisensi pelatih,” ucap Anjar.

Dengan lisensi kepelelatihan dan seabrek pengalaman yang ia miliki setelah mengikuti berbagai pelatihan sebagai pemain, Anjar mantap untuk memasuki dunia kepelatihan. Gayung bersambut lantaran ia kemudian mendapatkan tawaran untuk menangani SMA N 1 Tanjungsari dan Persig U17. Di awal karirnya menjadi pelatih ia bertekad membawa tim kebanggaan masyarakat Gunungkidul ini ke pertandingan kancah nasional.

Dengan menerapkan metode pelatihan Filanesia yakni Filosofi Sepakbola Indonesia seperti yang ia dapatkan dari para coach seniornya, ia optimis bibit-bibit pesepak bola Gunungkidul akan terasah.

“Jadi saya sendiri akan menciptakan sepak bola yang menghibur dengan satu dua kali sentuhan dalam penguasaan bola,” kata Anjar.

Saat ini, ia bersama Tim Persig Gunungkidul sedang berusaha keras menorehkan prestasi di Piala Soeratin.

“Banyak pemain berbakat dari Gunungkidul yang bermunculan sekarang, salah satunya Abdul, terus Raditya dan Afzian yang sekarang dikontrak Persiba Bantul, saya yakin banyak sekali potensi dari Bumi Handayani yang bisa kita kembangkan,” beber dia.

Mau Jago IT?

Create Account



Log In Your Account